facebook instagram
  • Home
  • About
  • Kata Anggi
  • Shop

Journal Anggi

ikatlah ilmu dengan tulisan


Bulan Juli ini saya kembali mengikuti Qur'an Journaling Challenge yang diadakan oleh @thequr'anjournal.id. Berbeda dengan QJ Challenge biasanya, kali ini yang dibahas dalam QJ Challenge adalah Surat Al Fatihah, dilakukan rutin selama 4-5 pekan (11 Juli-8 Agustus 2021) dan ada Live Tadabbur bareng Ustadz Ridho Abdul Fattah, Lc. Serunya lagi nih yang daftar QJ Challenge ini bahkan sampai 100 orang lebih, masya Allah...



Jadi cara 'main' di QJ Challenge kali ini adalah peserta melakukan tadabbur mandiri lebih dulu, lalu setor hasil tadabbur di IG kemudian peserta akan mendapat link live tadabbur bersama. Kesepakatan ini harus benar ditaati, mengingat live tadabbur tidak ada rekaman ulangnya. 



Pembukaan hari pertama, diawali dengan live tadabbur keutamaan Surat Al Fatihah dan pembahasan ta'awudz. Kita sering tuh ya baca Surat Al Fatihah ini tapi sayang banyak dari kita, termasuk saya sendiri, masih nggak paham kenapa sih kok harus banget baca Surat Al Fatihah? Kenapa nggak surat lain aja? Kalau sakit terus minum air yang dibacakan Surat Al Fatihah boleh apa enggak sih? Nah semuanya dibahas di sesi ini. Berikut hasil ringkasannya.




Selanjutnya para peserta melakukan tadabbur mandiri Surat Al Fatihah ayat 1 dan 2. Saya sendiri mencari sumber tafsir selain dari Qurano.com, saya juga mendengarkan kajian Ustadz Adi Hidayat, Lc, M.A. Berikut hasil tadabbur saya :





Ah saya sendiri jadi merinding saat mendengarkan kajian tentang QS Al Fatihah ayat 1 & 2 yakni Basmalah dan Hamdalah ini. Sungguh banyak sekali rahmat Allah yang Dia berikan pada saya, pada kita umat manusia. Bisa bernapas lega, mencium bau-bauan, ngerasain makan indomie, masih tinggal di rumah beratap dan beralaskan lantai, masih bisa ngeblog, main sosmed, dll. Rahmat Allah itu luas dan sangat banyak. Saking banyaknya hal-hal seperti itu sering kita anggap remeh, tul nggak? Seringnya kita itu ngejar yang belum kita miliki. Padahal heyyy syukuri dulu lah karunia-Nya yang luas ini. Dengan adanya pandemi seperti sekarang ini, semakin terasa bahwa ternyata bisa bernapas itu sangat berharga 😭😭😭😭 Ya Allah maafkan kami..





Kalau mau mendengarkan kajian QS Al Fatihah ini kalian bisa mampir ke Youtube :




Happy Journaling !
Anggi



Pernah kan kita mendengar cerita seperti ini. Ada yang orang tuanya alim ternyata anaknya berbuat maksiat. Ada yang istrinya istiqomah dalam ibadah tapi suaminya enggak. Ada yang anaknya ahli ibadah tapi orang tuanya murtad. Ada yang suaminya ibadahnya kenceng tapi istrinya malas sholat apalagi berangkat pengajian. Bahkan mungkin ada di antara keluarga kita yang kondisinya seperti itu. Jangan dinyinyirin yah genks. Kondisi seperti itu ternyata sudah tertuang dalam Al Qur'an, QS At Taghabun 64 : 14 lho..

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Ayat ini turun sebagai reaksi jawaban terhadap orang-orang yang nggak ikut berhijrah bersama Rasul. Ceritanya, ada di antara beberapa lelaki hijrah mengikuti Rasul tapi istri dan anaknya nggak mau ditinggalin. Mereka ngerasa berat ninggalin harta benda mereka di Makkah dan ngerasa nggak mampu menempuh perjalanan dari Makkah dan Madinah yang memang nggak ringan. Nah, orang-orang yang nggak hijrah itu menyalahkan istri dan anaknya karena mereka ngelihat teman-temannya dari perjalanan hijrah semakin bertambah ilmu dan akidahnya. Mereka kesel karena merasa sangat tertinggal jauh dari ilmu agama. Saking keselnya mereka sampai ingin memukul anak dan istrinya, maka turunlah ayat ini.

Kata "'aduw" berarti musuh ini bukan arti musuh sebenarnya yah, melainkan dari segi perbuatan yang menjadi penghalang dari jalan ketaatan beramal shalih, menjerumuskan pada perbuatan maksiat, perbuatan haram yang dilarang oleh agama. Pokoknya perbuatan yang melalaikan pasangan atau orang tuanya dari amal salih. Kenapa sih kok dibilang musuh? Karena tidak ada sesuatu yang lebih buruk selain upaya memisahkan seorang hamba dari ketaatan. Masya Allah...

'Musuh' di sini nggak cuma untuk anak dan istri yah, bisa juga suami atau anak. Kata azwaj dalam ayat ini mencakup kategori keduanya tanpa adanya bias gender sebagaimana terdapat dalam ayat manapun dengan susunan lafadz yang serupa.

Gimana ngadepinnya? Allah ngasih kita saran untuk tetap memaafkan mereka, tidak memarahi, tetap menyayangi, jangan bertindak kasar, jangan sebar aib pasangan atau anggota keluarga lain yang berbuat maksiat, jangan memenuhi semua keinginan yang membuat kita jauh dari Allah. Tetaplah saling menasihati dalam kebaikan. Intinya sabar dan tetap hati-hati. Sebaliknya kita juga jangan menjadi penghalang ketaatan pada anggota keluarga kita. Selalu berdoa pada Allah karena Dialah sebaik-baiknya petunjuk.

Tetap semangat ibadah dan tetap hati-hati yah :)

Wallahualam

Jogja, Juli 2021
Anggi
edit by Canva



Assalamualaikum..
Welcome July..
Meski masih diwarnai dengan berita pandemi yang entah kapan akan berakhir, tapi semoga goals bulan ini tercapai semua yah. Lebih baik kita fokus dengan kedisplinan, kesehatan fisik dan mental terutama untuk diri dan keluarga. Banyak cara untuk menjaga kesehatan mental yang dibutuhkan saat seperti ini. Salah satunya adalah dengan belajar Qur'an Journal yang menjadi topik utama di blog ini. Ngomong-ngomong buat yang masih bingung mau belajar tentang Qur'an Journal, berikut saya ulas komunitas Qur'an Journal di Indonesia.


Naminauna Institute

Naminauna Institute ini dipelopori oleh mbak Rusna Meswari, S.Km, M.Sc yang memiliki passion luar biasa terhadap people development dan juga Qur'an Journaling. Masya Allah. Saya mengenal Qur'an Journal pertama kali dari instagram mbak Una dan beliau cukup aktif membuka pelatihan kelas online Qur'an Journaling, mulai dari Journal Syukur (bagian dari Qur'an Journaling), Ramadhan Qur'an Journaling, Qur'an Journaling for Self Healing, dan Class Premium 40 hari belajar basic Qur'an Journaling secara tematik dan holistik. Beberapa kali saya mengikuti pelatihan beliau walau belum semua 😀. Energi beliau tuh ya, masya Allah deh... Walau kelas onlinenya malam hari pun masih terasa seperti pagi hihi sangat semangat membagi ilmunya. But, kelas online beliau ini masih terbatas untuk akhwat saja 😄

IG : @naminaunainstitute


The Quran Journal Indonesia

The Quran Journal Indonesia ini dimentori oleh mbak Ragwan Alaydrus, M.Ed. The Quran Journal ini juga rutin mengadakan Qur'an Journaling Challenge sesuai tema tertentu, baik di grup FB atau Instagram dan online workshop melalui zoom. Selain itu, kita juga bisa membeli softcopy khusus Qur'an Journal di sini. Komunitas ini juga sudah menerbitkan buku loh.. Di antaranya buku khusus Jurnal Al Qur'an dan yang terbaru buku Tadabbur with Us yang berisi tentang kumpulan tadabur para Qur'an Journalers, refleksi, motivasi sekaligus tips dalam tadabur dan Qur'an Journaling.



IG : @thequranjournal.id


Quran Journaling Malang

Komunitas ini digawangi oleh mbak Fitri Sudjarwadi. Komunitas ini merupakan komunitas belajar tadabur dan menulis jurnal Al Quran di Malang. Eh tapi selain dari Malang juga bisa ikutan loh di sini, contohnya saya 😁 Komunitas ini juga aktif mengadakan pelatihan Qur'an Journaling dan ilmu self development lainnya yang berhubungan dengan Al Qur'an. Mbak Fitri juga aktif membagi ilmunya di blog pribadi beliau, penikmatjaman.

IG : @qjmalang

Beberapa kali saya mengikuti kelas online dan Qur'an Journaling challenge dari komunitas tersebut. Alhamdulillah semakin menambah ilmu dan menumbuhkan kecintaan pada Al Qur'an. Seperti namanya, Al Qur'an adalah Asy Syifa' yang berarti obat atau penyembuh. Meski masih penuh dengan dosa, yuk ah jangan terlalu jauh sama Al Qur'an. Kalau kita bisa mentadaburinya apalagi penuh dengan kesungguhan, saya yakin akan meleleh dengan ayat-ayat cinta-Nya. Masya Allah 😭😭

Semoga postingan kali ini bermanfaat yah khususnya buat yang masih bingung untuk memulai tadabur Qur'an. Tinggal pilih aja salah satu komunitas di atas atau ikut semuanya juga boleh disesuaikan saja dengan waktu yang dipunya 😊

Wassalamualaikum,

Jogja, 3 Juli 2021
Anggi
edit by Canva

Assalamualaikum, 
And Welcome June... udah pertengahan tahun dan masih suasana pandemi. Semoga masih tetap semangat dan semoga istiqomah ngejournal Qur'annya yaa...

Part 2 kemarin udah bahas sampai menemukan inti tafsir. Selanjutnya kita bisa menuliskan Lesson atau hikmah apa yang bisa kita dapat dari menemukan inti tafsir tersebut.  Contoh seperti berikut lanjutan dari QS Al Mulk ayat 2, bila dipetik hikmahnya maka aku simpulkan seperti berikut. Oh iya Lesson atau hikmah ini aku simpulkan dari sumber kalamsindonews.com ya..


Langkah terakhir adalah menuliskan refleksi, action plan dan doa dari ayat tersebut. Kembali lagi pada prinsip yang dipelajari dari Al Qur'an bahwa setiap ayatnya adalah nasihat untuk diri sendiri yaa dan bukan menjadi senjata bagi orang lain.

Dari Lesson, bisa juga dikembangkan ke hal-hal yang berkaitan dengan ayat yang dibahas seperti hadis, adab-adab atau hal lain yang kita temukan. Misal QS An Nisa ayat 69, mengenai tiket menuju surga, aku kembangkan dari Lesson seperti ini :


Refleksi

Refleksi adalah proses mengenali, mengidentifikasi dan menganalisa diri sendiri. Jadi bawa ayat itu untuk mengoreksi diri sendiri. 

Gimana cara menuliskan refleksi?

1. Pahami poin lesson/pembelajaran/hikmah yang udah kita dapat. Tandai poin yang paling penting.

2. Kata kunci refleksi : aku (diri sendiri)
Karena refleksi ini menurutku butuh pemahaman serta perenungan sangat mendalam, maka refleksi ini bisa bersifat : personal, subjektif dan privasi. Dalam artian, hasil refleksi ini bisa berbeda setiap orang. Semua relatif, tergantung pribadi melihatnya seperti apa. 

3. Pancing dengan pertanyaan :
  • Apakah aku termasuk orang yang disebutkan dalam ayat tersebut?
  • Apa saja pelajaran penting dari ayat ini?
  • Apa saja informasi baru yang dapat mengubah perspektifku?
  • Bagaimana aku bisa menjadi lebih baik setelah belajar dari ayat ini?
  • Bagaimana ayat ini menambah keyakinanku pada Allah?
  • Bagaimana aku dapat mengamalkan pelajaran dari ayat ini?
  • Sudah taatkah aku pada perintah ayat tersebut?
  • Pernahkah aku melanggar dari perintah ayat tersebut?
  • dll
4. Hubungkan refleksi dengan :
  • Pengalaman
  • Situasi yang dihadapi saat ini
  • Perasaan yang dirasakan
  • Sudut pandang dan pemahaman yang diyakini 
  • dll

Refleksi memang sifatnya sangat personal. So, kamu bisa tuliskan senyamanmu. Mau ala curhat juga nggak apa-apa. Tumpahkan semua yang kamu rasakan.

Action Plan


Action Plan adalah rencana tindakan atau perubahan yang akan dilakukan setelah refleksi. 

Gimana cara menuliskan action plan?

1. Tandai refleksi yang urgent dan penting. Hal ini bisa merujuk pada hukum syariat misal akidah, ketauhidan, shalat, dll

2. Kata kunci action plan : bisa dilakukan dan segera.

Buat action plan yang :
  • Spesifik
  • Bisa dipraktikkan
  • Bisa dievaluasi
  • Berdampak
Jadi tulis action plan yang gampang dilakuin aja gaess... jangan muluk-muluk, jangan susah-susah, jangan berat-berat, yang penting kita bisa istiqomah ngejalaninnya dan bisa ikhlas.

3. Evaluasi

Nah, kamu bisa lakukan evaluasi berkala sejalan dengan action plan yang kamu buat untuk mengukur sampai sejauh mana perubahan diri kita. Misal nih action planmu membaca buku fiqih agar lebih tau syariat Islam. Kamu bisa bikin reading tracker buku fiqih apa yang kamu baca, catat poin-poinnya dan lakukan apa yang diperintahkan. Pokoknya yang gampang aja dah...



Doa

Last, adalah doa. Seperti kata ustadz Nouman Ali Khan, bahwa ayat Al Quran itu sebenarnya adalah pertalian kita dengan Allah. Kalau cuma dibaca saja, ibarat Allah kirim Whatsapp ke kita, tapi kita nggak balas. Padahal kita bisa berdoa dari ayat Al Qur'an yang Allah turunkan. Misal, kamu lagi nulis ayat yang ternyata menceritakan tentang keburukan Bani Israil, maka kamu bisa berdoa semoga dijauhkan dari sifat bathil mereka. Contoh lain misal ayat tentang boros dan kikir. Maka kamu bisa berdoa agar dijauhkan dari sifat boros dan juga kikir.



Untuk Doa bisa juga kamu cari dari doa-doa para Nabi yang sesuai kebutuhan refleksimu. Contohnya yang aku tulis adalah doa Nabi Adam dalam QS Al-A'raf ayat 23.

Dalam proses Qur'an Journaling ini tidak bisa buru-buru yah gaes.... Yah minimal seminggu sekali atau dua minggu sekali, atau terserah kamu aja mau target berapa ayat, sebisamu, semampumu. Toh yang butuh kan kamu, yang jalanin action plan ya kamu. Nulis Qur'an Journaling kan emang buat diri sendiri toh. Walau dalam perjalanannya ada khilaf, lupa, ya namanya aja manusia tempatnya dosa. Kalau udah ngejournal Al Qur'an, sebisa mungkin sediakan waktu untuk mereview ulang kembali biar tetap selalu ingat dan tetap 'on track'. Barangkali ada action plan yang terlewat, yang lupa, lalu refleksikan ke diri sendiri lagi apakah sudah bisa melaksanakan action plannya atau enggak. Selalu minta Allah agar mudahkan kita nerima ilmu.

Segitu dulu yaaah... Selamat belajar. Semoga Allah selalu mudahkan urusan kita. Maafkan Qur'an Journaling saya kurang estetik hehehe... Kamu bisa tulis yang terbaik sesuai versimu.

Wassalamualaikum

Jogja, Juni 2021
Anggi

edit by Canva

Assalamualaikum

Saya sudah pernah share tentang bagaimana memulai Qur'an Journaling [Part 1]. Nah sekarang lanjut yang Part 2 yah... Bismillah...

Adab

Sebelum memulai sesuatu pastikan selalu mendahulukan adab, karena seberapapun banyaknya ilmu tanpa disertai adab yang baik akan bisa menjadikan manusia pun berperilaku tercela.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa para ulama mendahulukan mempelajari adab?

Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Nah berhubungan dengan kegiatan Qur'an Journaling, seperti kata Ustadz Nouman Ali Khan bahwa kita harus bersikap rendah hati terhadap Al Qur'an. Tidak menjadikannya sebagai bentuk kesombongan dan menjadikan Al Qur'an guna memperbaiki diri sendiri bukan untuk memperbaiki orang lain.

Teknik Qur'an Journaling

pic by Telegram QJ Malang


Di Part 1 sudah dijelaskan secara rinci tentang strategi memilih ayat tadabbur, di antaranya adalah secara random, tematik, series dan metode garpu tala. Nah, setelah itu ayat serta terjemahannya dibaca secara khusyuk, lalu tuliskan ayat beserta terjemahannya di journal kamu. Dalam proses meringkas atau menuliskan ayat, baiknya kita uraikan dulu dengan menemukan inti tafsir, yakni dengan cara : 

edit by Canva

1. Kata Kunci

Cara pertama untuk menemukan inti tafsir adalah dengan menemukan kata kunci dari ayat tersebut. Misalkan dari terjemahan dan tafsir tersebut tentang Bani Israil, maka kamu bisa tuliskan di journal kamu bahwa ayat tersebut adalah tentang Bani Israil.

2. Asmaul Husna

Kedua adalah dengan mencari Asmaul Husna dari ayat tersebut. Namun dengan catatan tidak semua ayat terkandung Asmaul Husna.

3. Tujuan Ayat

Lalu kamu bisa meneliti apa tujuan dari ayat tersebut, berupa perintah, larangan, pujian untuk Allah, atau afirmasi (penekanan terhadap sesuatu).

4. Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab turunnya ayat tersebut. Asbabun Nuzul terdiri dari dua bentuk yaitu peristiwa dan pertanyaan. Contoh bentuk peristiwa dalam QS Al Isra' ayat 1 adalah peristiwa mengenai peristiwa Isra' yang dialami oleh Rasul. Contoh bentuk pertanyaan adalah pada Surat Al Kahfi ayat 83, “Mereka akan bertanya kepadamu Muhammad tentang Zulkarnain, Katakanlah: “Aku akan bacakan cerita tentangnya”. (QS. Al Kahfi:83). Nah, untuk menentukan Asbabun Nuzul ini butuh banyak referensi tidak hanya dari satu tafsir, namun bisa diperluas dari Hadis atau ayat lain yang berkesinambungan dengan ayat tersebut. Tentunya dengan mengetahui ayat dari Asbabun Nuzul memberi berbagai manfaat untuk kita. Salah satu manfaatnya yaitu dapat mengetahui hikmah rahasia yang terkandung dalam pengsyari’atan hukum dalam ayat Al Qur'an.

Gimana? Bingung apa bingung, hehehe..
Berikut contoh Qur'an Journaling saya biar ada gambaran sedikit :


Ini adalah contoh hasil Qur'an Journaling saya Surat Al Mulk ayat 2, tentang Tanda Kekuasaan Allah. Ada Asmaul Husna di situ, Al Aziz dan Al Ghaffar. 


Ini poin Tafsir yang saya temukan dari ayat tersebut dan saya cari penjelasan lain dari berbagai sumber. Jangan lupa tulis sumbernya ya... 


Ini contoh penulisan Asbabun Nuzul dari QS Al Isra' ayat 29. 

Gimana, udah ada gambaran belum? Oh iya untuk penulisan journaling ini senyaman kamu aja, sesuai selera. Nggak harus estetik kok. Contohnya punya saya nggak estetik banget hehe, karena saya emang suka yang simple. Kalau banyak dekor kayak memakan waktu dan tenaga untuk saya, kayak mikirnya berattttt, malah lebih stress nentuin ke-estetikan hehe. 

Yuk kalau mau coba dulu tentang Qur'an Journaling sambil latihan tipis-tipis. Bisa main ke akun IG saya @anggi.octvn untuk mengintip Qur'an Journal yang saya tulis. Pakai hashtag #QuranJournaling juga bisa, insya Allah kamu akan mendapat insight di sana. 

Sekian dulu yah tentang teknik Qur'an Journaling. Dikit aja nggak usah banyak-banyak, nanti keburu males baca tulisan saya hehehe.... Insya Allah nanti bersambung di Part 3.

Wassalamualaikum

Jogja, Mei 2021
Anggi
edit by Canva


Assalamualaikum, 

Pernah nggak sih saat kamu mulai tadabbur Al Qur'an, kamu ngebatin kayak gini :
"Kok Al Qur'an isinya kiamat aja sih?"
"Lah, ini kok isinya hukuman?"
"Masak Allah sejahat itu?"

Kalau emang pernah ngebatin gitu, toss dulu deh. Soalnya waktu awal mau ngejournal Al Qur'an saya juga punya pikiran yang sama. Ett dah, emang dasar syaitan yang bikin pikiran manusia suudzon sama Al Qur'an. Setelah saya banyak cari tau dan banyak membaca serta mendengarkan kajian Ustadz Nouman Ali Khan, saya jadi malu sendiri sama Allah. Langsung deh saya istighfar. 

Sebenarnya isi Al Qur'an itu gimana sih...?

Cinta Allah pada Manusia

Saya mengutip dari buku Romantisisme Kalam Tuhan, penulis Muhammad Nuchid yang pernah saya review di sini, dalam bab Cinta Allah pada Manusia dijelaskan bahwa ada banyak sekali ditemukan bagaimana Allah mengungkapkan cinta-Nya pada manusia. Contohnya tentang penciptaan manusia yang tertuang pada QS Ar Rahman : 1-4.

"Ar-Rahman. Yang mengajarkan Al Qur'an. Yang menciptakan insan. Yang mengajarkan bayan." [QS Ar-Rahman : 1-4]

Ar-Rahman. Zat Yang Maha Pemberi Kasih. Yang cinta kasih-Nya teramat luas, beraneka ragam, mencakup segala sesuatu. Dia mengasihi orang mukmin dan bahkan orang kafir.

Allah, Dzat Yang dengan kasih sayang-Nya, Dia mengajarkan Al Qur'an yakni menurunkan Al Qur'an kepada Nabi Muhammad Saw, melalui perantara Jibril sebagai petunjuk dan merupakan ekspresi cinta-Nya kepada orang-orang yang bersedia meraih petunjuk-Nya. 

Allah, Yang dengan kasih sayang-Nya, Dia mengajarkan bayan yakni pengetahuan tentang jalan hidayah dan jalan kesesatan serta kehidupan dunia dan akhirat juga hukum-hukum syariat. 

Sebab cinta, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang indah,

"Allah-lah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu lalu memperindah rupamu serta memberimu rezeki dari yang baik-baik." [QS Ghafir : 64]

Allah juga menciptakan apapun di alam raya ini semua untuk manusia :

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu." [QS Ibrahim : 32-33]

Jadi, Allah tuh nyiptain manusia udah makhluk paling pungkas, deh. Semua diperuntukkan untuk manusia. Malaikat diciptakan untuk mengatur hidup manusia. Sedangkan iblis sebagai rintangan buat manusia agar manusia dinaikkan derajatnya sama Allah. Surga dan neraka juga diciptakan sebagai ganjaran atas perbuatan manusia.

Isi Al Qur'an Paling Banyak ialah Asmaul Husna

Kemudian saya mengikuti kajian Ustadz Firanda tentang urgensi mempelajari Asmaul Husna di Youtube channel beliau. Beliau mengatakan bahwa nama Allah dalam Al Qur'an itu lebih banyak disebut daripada tentang hari kiamat dan syariat yang lainnya. Bahkan nama Allah tuh lebih dari 99 nama. Ya, 99 nama Allah itu yang sangat spesial tapi nama Allah tidak terbatas jumlahnya. Seperti pada hadits berikut, 
“Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama-nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu , atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.” (HR. Ahmad 6/247, di shahihkan oleh syekh Al Bani)

 

source Pixabay

Reconnect with Al Qur'an

Sub bab ini saya coba ambil dari Kajian Ustadz Nouman Ali Khan, Reconnect with Al Qur'an, yang sempat diadakan di Jakarta 2018 lalu. Berikut beberapa hal yang bisa saya simpulkan mengapa kita bisa menjadi sangat jauh bahkan tidak mengerti dengan Al Qur'an.

Ada Jarak antara Hati Kita dengan Al Qur'an

Dalam kajian Ustadz Nouman Ali Khan, beliau mengatakan bahwa permasalahan manusia adalah adanya jarak antara hati kita dengan Al Qur'an. Hal itu disebabkan oleh hati kita tidak ada rasa terhadap Al Qur'an, kayak kurang ngefeel gitu lho, karena kita kurang paham tentang asal mula Al Qur'an ini turun dan bagaimana perjalanan Allah menurunkannya untuk kita. Nah, kembali lagi pada QS Ar-Rahman, Yang Mengajarkan Al Qur'an, seharusnya lebih dulu kita merasakan bahwa Allah adalah Rahman, Maha Pengasih. Kita pasang mindset terlebih dahulu bahwa tiada yang lebih Maha Pengasih dan Maha Penyayang selain Allah. Memang ada ayat Al Qur'an tentang siksa, neraka, dan sebagainya, tapi kasih sayang Allah jauh lebih besar lagi… Semakin kita belajar tentang Al-Qur’an semakin kita akan menyadari betapa kasih sayangnya Allah kepada kita dan pasti kita akan semakin ingin menenggelamkan diri di dalamnya.

Tingginya Hati Kita

Al Qur'an itu sebenarnya bukan membicarakan tentang siapa-siapa, tapi tentang kita, bukan orang lain. Ayat Al Qur'an menjadi salah apabila menjadikannya sebagai 'senjata' untuk menghakimi orang lain. Meskipun dalam Al Qur'an ada kata yang tidak kita pahami, namun bangunlah kesadaran dalam diri kita agar selalu merendahkan diri dalam memahami ayat-ayat Allah. Misal, dalam kata Alif laam miim, ada makna tersirat yang ingin Allah sampaikan pada kita bahwa Allah ingin kita tau diri bahwa kita ini sangat kecil di hadapan Allah. Allah ingin kita datang pada-Nya dengan rendah hati, jangan tinggikan hati kita. Kita seharusnya selalu bermunajat pada Allah agar Allah terangkan pikiran kita dan selalu bukakan pintu hati kita yang gelap, supaya Allah selalu memandu kita lewat cahaya-Nya. Masya Allah..

Kita Belum Sepenuhnya Percaya bahwa Al Qur'an adalah Obat Hati

Kalau ada masalah coba deh renungkan, kita curhat sama siapa? Masih sesama manusia atau sudah mendekat ke Al Qur'an? Kebanyakan dari kita masih berkeluh kesah pada manusia, padahal sudah tertuang pada ayat berikut :

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُمۡ مَّوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوۡرِۙ وَهُدًى وَّرَحۡمَةٌ لِّـلۡمُؤۡمِنِيۡنَ
Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. [QS Yunus : 57]

Kita sebagai manusia pasti punya 'penyakit' dari dalam diri kita, amarah, kesedihan, kekecewaan, ketakutan, depresi, dan hal negatif lainnya. Dari ayat tersebut tersirat makna bahwa Allah yang menyuruh kita untuk membuka Al Qur'an apapun permasalahan yang sedang kita hadapi karena ia akan menyembuhkan hati dan memberikan petunjuk untuk kita. 

Faktanya Hanya Percakapan Satu Arah

Hati yang tinggi, belum 100% percaya dengan Al Qur'an, maka yang terjadi hanyalah percakapan satu arah saja. Ibarat membaca pesan Whatsapp sesaat lalu tak dibalas, meski Al Qur'an sedang kita baca namun kita membacanya hanya sambil lalu. Padahal, Al Qur'an adalah 'tali' penyambung kita kepada Allah.

How to Reconnect with Al Qur'an

Jadi gimana dong agar bisa terkoneksi dengan Al Qur'an? Ini tips dari Ustadz Nouman Ali Khan :
  • Sediakan waktu 15 menit untuk mendengarkan murottal
  • Baca 1 tafsir Al Qur'an, 1 ayat saja
  • Dengarkan penjelasannya berulang kali, sedikit demi sedikit, setiap hari
  • Berdoa pada Allah
Misal, dari kisah Firaun kita bisa jadikan itu sebuah doa yakni minta dijauhkan dari sifat seperti Firaun. 

Belajarlah Al Qur'an untuk dirimu sendiri, buka untuk orang lain. Jangan niatkan belajar Al Qur'an untuk orang lain sedangkan untuk dirimu tidak berdampak apa-apa. Refleksikan kepada hidupmu. Belajarlah Al Qur'an bukan untuk mengutip ayat lalu menyalahkan orang lain. Jangan gunakan ayat Al Qur'an sebagai adzab bagi orang lain namun sebagaimana ia diturunkan dengan penuh rahmat maka jadikanlah ia penuh rahmat untuk orang lain. Hanya Allah yang pantas menghakimi.

Seperti Nabi Ibrahim yang memiliki 'qolbun saliim' yakni hati yang selamat, yang terus mengusahakan kebaikan dirinya dan bagi orang lain, bahkan keturunannya yang belum pernah ia lihat dan mendoakan bagi kebaikan orang lain meski ia telah dianiaya dan dizholimi.

(Ibrahim berdoa), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [QS Asy Syu'ara : 83-89]

So gaess,, belajar dari pengalaman ini, jangan pernah berburuk sangka sama Al Qur'an. Turunkan ego, kosongkan gelas kita di hadapan Al Qur'an. Anggaplah Allah mau berbicara dengan kita lewat Al Qur'an. Selalu libatkan Allah dalam segala hal termasuk berharap agar kita dipermudah dalam memahami kalam Allah. Masya Allah. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya. Allahu Akbar.

Jogja, Mei 2021
Anggi 
Older Posts

Assalamualaikum


Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ

“Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).


LET’S BE FRIENDS

Part of

Blogger Perempuan
1minggu1cerita

Labels

Family & Parenting Inspirasi Journaling Quran Journaling Review Buku Self Development Self Reflection

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Juli (3)
  • Juni (5)
  • Mei (10)

Terimakasih

Mau Cari Apa?

Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Popular Posts

  • Kenalan Yuk Sama Komunitas Qur'an Journal Indonesia
  • About Me
  • Tentang Qur'an Journaling
  • Review Buku : Emotional Healing Therapy by Irma Rahayu
  • Review Buku : Musim Memohon (Mengambil Hikmah dari Filosofi Pohon)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut

FOLLOW ME @anggi.octvn

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates