Review Buku : Emotional Healing Therapy by Irma Rahayu

by - Juni 09, 2021

edit : Canva


Mengikuti Kelas Qur'an Journaling, membawa dampak pada diri saya untuk terus belajar dan mencari, pada akhirnya membawa pikiran saya untuk lebih mengenal diri saya sendiri, mulai dari peran saya saat ini yang semakin bertambah, menemukan passion hingga menyembuhkan luka dan melepaskan energi negatif dalam diri. Saya mencari beberapa buku di Ipusnas dan aku tertuju pada buku ini. 

Judul            : Emotional Healing Therapy
Penulis          : Irma Rahayu
Tahun Terbit  : 2013
ISBN            : 978-02-452-119-6
Jumlah hal.   : 204
Penerbit        : Grasindo
Rating           : 5/5

Blurb

Awas, jangan remehkan emosi! Tahukah Anda kalau emosi negatif bisa menjadi penyebab berbagai masalah dalam kehidupan, seperti gangguan fisik, termasuk penyakit kronis, hambatan finansial dan karier, masalah hubungan dengan pasangan dan orang terdekat, termasuk menghambat pencarian jodoh.

Emotional Healing Therapy merupakan terapi praktis untuk melepaskan emosi bawah sadar yang dapat membantu Anda menemukan tujuan hidup, memperoleh kesehatan fisik dan psikis, meraih hubungan yang menyenangkan dengan pasangan dan keluarga, menemukan jodoh yang tepat, mencapai karier yang diinginkan, serta menggapai kebebasan finansial. Baca buku ini, coba metodenya, dan langsung dapatkan hasil nyata dalam hidup Anda!

Review Buku

Buku ini ditulis oleh Irma Rahayu, Soul Healer dan Life Coach bagi kaum profesional. Nggak disangka, perjalanan hidupnya yang bahkan hingga menuju titik nol membawa ia kembali terangkat atas izin Allah membuat keyakinan beliau terhadap pertolongan Allah semakin besar. Dari pengalaman hidupnya itulah, beliau ingin berbagi cara kepada sesamanya untuk melepaskan stress, menghilangkan trauma, membereskan masalah keluarga, percintaan, karir, keuangan, bisnis sampai masalah reproduksi dan kehamilan, kemudian mencari akar dari penyakit fisik dengan metode psikologi dan spiritual yang tidak menyimpang dari ajaran agama apapun. Hingga saat ini beliau masih aktif menjadi fasilitator serta aktif berbagi tentang pandangannya bahkan kata-kata motivasi di instagramnya @irmasoulhealer.

Oh iya buku Emotional Healing ini sudah mengalami beberapa kali revisi dan terakhir adalah tahun 2016 dengan sampul baru warna ungu. Di ipusnas hanya ada dua jenis revisi buku Emotional Healing Therapy ini, tahun 2013 dan 2015. Meskipun begitu, tidak mengurangi kebermanfaatan dari buku ini.

sumber : ebooks.gramedia.com, edisi revisi 2016

Sedikit curhat ya... Sejak adanya pandemi tahun 2020 lalu dan sampai sekarang belum ada titik terang, membuat saya juga frustasi, depresi, dan overthinking. Sedikit-sedikit cemas, bawaannya tersinggung. Apalagi sekarang saya harus beradaptasi di lingkungan baru, dengan orang baru, kebiasaan baru yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Ditambah juga adanya pandangan merendahkan tentang statusku dan keluarga kecil saya bukan keluarga kaya raya. Sakit sekali haha. Then, saya mencoba membaca buku ini dan rasanya tuh baca buku ini seperti menemukan 'jalan' dari terowongan yang gelap. Banyak orang mengenal emosi itu hanya perasaan sedih dan marah, padahal lebih dari itu. Buku ini mengupas lebih dalam mengenai penyelarasan emosi melalui tips dan proses therapy, Emotional Healing Therapy, Mirror Therapy, dan Inner Child Therapy. 

Buku ini juga memaparkan mengenai lima sindrom emosi yang bisa berdampak pada fisik. Lima sindrom ini secara tidak sadar hinggap dan betah menemani di kehidupan kita. Lima sindrom itu ialah sindrom menangis, sindrom tanggung jawab, sindrom frustasi seksual atau perasaan bersalah,  sindrom perlawanan dan sindrom melarikan diri. Ada pula dijabarkan dalam kolom tentang penyelarasan penyakit dengan emosi. Dang! Saya sering sakit maag, dan itu ternyata adalah sebab akibat dari perasaan takut, cemas, serta tidak puas pada diri sendiri (melankolis detected) kwkwkk. 

Hal yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah bab Warisan Emosi dari Orangtua, bahwa karakter dan emosi kita hari ini adalah buah pengasuhan dari orangtua. Tentu ingat dong pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Nah seperti itulah gambaran bahwa secara tidak langsung sebagai anak, kita meniru bahkan melakukan pola yang sama dengan orangtua. Lagi-lagi bab ini membuat saya intropeksi dan menyadari bahwa ternyata masih ada sisa-sisa "luka" yang terpendam dalam hati saya kepada orangtua saya. Ternyata mencoba denial itu tidak bagus karena rentan membuat luka itu terbuka kembali. 

Buku ini hadir satu paket dengan solusi bagaimana caranya menghadirkan emosi kita hingga bagaimana caranya memaafkan seseorang yang telah menyakiti hati kita secara sengaja maupun tidak. Kita bisa melakukan terapi sederhana dari tips yang ada di buku ini. Nggak instan memang, butuh pembiasaan diri dan niat dari dalam hati. Namun apabila emosi masih berlanjut hubungi mbak Irma-nya hehe. 

Bahasa yang disajikan buku ini sangat ringan bahkan dengan gaya penulisnya yang blak-blakan sedikit banyak "menampar" keras diri saya. Seperti saat mbak Irma dalam buku ini berkata pada salah satu kliennya yang mengeluh mengapa hidupnya banyak masalah, beliau bilang, "ya kan kamu manusia!", YA IYA SIH NGGAK SALAH JUGA KAN YA HAHAHAHA. Hal lain yang saya suka dari terapi mbak Irma ini adalah beliau mensinergikan dengan nilai-nilai agama yakni selalu minta pertolongan Maha Kuasa. Dalam tips terapi buku ini, beliau selalu menekankan "Sending Love" yaitu kirim doa kebaikan untuk mereka yang menyakiti kita. Kalau muslim bisa dengan Surat Al Fatihah. 

Buku ini ditutup dengan beberapa kisah nyata dari para alumni kelas Emotional Healing mbak Irma dan foto-foto para kliennya sebelum terapi dan setelah melakukan terapi ke mbak Irma. 

Akhir kata saya cuma mau bilang kalau butuh healing bisa baca buku mbak Irma ini. Ternyata beliau juga menulis buku healing lain lhoo, yang aku tau Soul Healing Therapy, Love Therapy, When You Love a Broken Soul dan Money Therapy. Sepertinya saya sendiri belum cukup puas kalau cuma baca buku mbak Irma satu kali apalagi secara online, lebih bagus beli buku fisik dan baca berkali-kali karena emang isinya "daging" bangeeeet. 

Terimakasih yang udah baca curhatan saya yang berkedok review buku, hehe

Jogja, Juni 2020
Anggi

You May Also Like

6 komentar

  1. Halo Kak, semangat ya dalam menemukan penyembuhan untuk diri sendiri. Aku sekarang juga lagi getol2nya membaca soal mengasuh inner child. Sepertinya bisa dipelajari berdampinga dengan emotional healing ya? 😊 di FB aku menemukan blognya Ribka Imari yg fokus pada mengasuh inner child. Gilak, artikel2nya mind blowing sekali sih. Bnr2 membuka mataku bahwa banyak sekali sakit hati yg kusimpan sejak kecil dulu 😂😂 menemukannya adalah satu langkah awal untuk menyembuhkan. Mungkin mba Anggi juga minat ☺☺☺
    Semangat selalu yuk, yuk, kita bisa 🤠🤠🤠

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah mbak, saya baru buka nih blog beliau... Ya Allah, nanti insya Allah akan saya baca... yes mbak, saya juga banyak luka dalam pengasuhan orangtua jaman dulu. Dan sekarang sedang berjuang untuk healingnya, walau masih naik turun prosesnya. Makasih infonya ya mbakk....

      Hapus
  2. Ini wajib saya baca sih. Apalagi ada di iPusnas. Haha ketahuan mental gratisan.
    Kesehatan mental emang perlu dirawat. Harus diobati kalau rusak, seperti penyakit lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga mental gratisan hihi... bener. Sekarang mental kudu dijaga, sama kayak menjaga kesehatan fisik :)

      Hapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar. Nanti saya kunjungin balik :)